Akan Tiba Saatnya

Aku mencintai tak letih-letihnya
Dan kau tak datang-datang meski bumi menua
Tak jua kutemukan jalan diseluruh langkahku
Untuk keluar dari seluk beluk kehidupanmu

Akan ada masanya kau terhempas
Melayang tinggi entah kemana
Kucari-cari dengan segenap upaya
Namun kau tetap tiada

Cinta yang kujanjikan tanpa setitik dusta
Ternyata penuh dengan pengkhianatan
Bertanya-tanya sepanjang waktu
Bagaimana kau menghilang begitu saja

Akan tiba waktunya kau tak lagi terkenang
Ketika hujan mendayu-dayu dari balik jendela
Lagu cinta menggantung di langit kelam
Namun rindu tak lagi disana

Ternyata datang sebuah jaman
Dimana mencintai kau adalah kerinduan
Pergi kemana sebuah cinta yang membawa namamu

Tidak meninggalkan satu dua hal untuk tinggal tersisa

Tanggal Tiga

Tanggal tiga,
Dimana kenangan menganga
Memaksa otak mengaduk-aduk ingatan yang merana
Pada sepasang mata bercahaya

Dimana cinta hanyalah bualan belaka
Namun benih tertanam di jiwa
Mengakar perlahan menembus linimasa

Tanggal tiga,
Kita bukanlah siapa-siapa
Pada pikiranmu yang tak tahu hendak beranjak kemana
Dan hatiku yang tidak bisa kemana-mana

Aku jatuh cinta
Pada kamu yang sia-sia
Dan tak bisa kuhilangkan meski dengan ribuan upaya

Selamat untuk tanggal tiga,
Semoga kamu ingat walau tidak seberapa
Cukup aku mencintaimu dalam lara

Melalui kesunyian meski kau duduk di seberang mata

Terima Kasih

Terima kasih.
Karena sudah membangunkan rumah dengan pemandangan yang sangat ramah.
Membuka rute menuju rumah yang tak pernah kutuju namun aku tetap setuju.
Sebuah rumah yang tak kuharap-harapkan tetapi tetap menawan.

Terima kasih.
Telah membelikan tempat tidur terhangat untukku beristirahat.
Dari hiruk pikuk dunia serta kegelisahan yang merajalela.
Tempat ternyaman untuk terlelap hingga lelah menguap.

Terima kasih.
Telah membantu memindahkan barang-barang dari rumah yang tergenang.
 Rumah sebelum ini terlalu sesak oleh isak.
Dan rumah yang kau ciptakan tak putus-putus dari kebahagiaan.

Terima kasih.
Telah menjadi rumah saat aku tersesat tak memiliki arah.
Tertawa untuk setiap lelucon yang kulontarkan meski sangat monoton.
Mendengarkan setiap jengkal cerita dengan alur yang tak tertata.
Membiarkanku bebas namun tak pernah melepas.

Terima kasih.
Karenamu, aku menjadi perempuan beruntung yang tak memiliki ujung.

Bosan

Aku merasa asing.
Terasing.
Pada senyum yang biasa aku tertawakan. Pada tawa yang biasa kusenyumi.

Aku melihatmu. Jelas-jelas melihatmu.
Tapi seperti ada batas.
Mungkin aku terlalu banyak tidur.
Tak melihat Tuhan membangun dinding kaca di sela-sela diriku, dirimu.

Sepertinya aku tidak meninggalkan kebiasaan-kebiasaan burukku.
Aku bosan.
Menatapmu aku jengah.

Bisakah kita kembali seperti tak memiliki celah?
Atau kita satukan saja celah-celah itu?
Aku merindukan aroma tubuhmu saat dulu aku bebas memelukmu.
Menggenggam tanganmu saja, kini berisi canggung.

Jadikan saja aku pilihanmu.
Karena jika menjadikanku tujuan, akan terlalu lama kamu sampai.
Aku muak.

Matahari sudah pergi.
Sebaiknya kamu mengikuti.
Atau kutendang kamu, sambil menangis meronta-ronta.
Tidak  tega.
Aku mencintaimu.

Kita Waktu Itu

kau, adalah rangkaian-rangkaian rindu yang aku titipkan pada angin saat aku memikirkanmu dari jendela kamar, tempat aku melihatmu datang, dan melambaikan tangan dengan sekotak susu cokelat favoritku di tangan kirimu.

Kau, adalah deretan-deretan kata yang tak pernah bosan aku tuliskan pada setiap kertas-kertas yang sengaja aku sobek dari buku tulis kesayanganku. Meski  kau tak suka aku menyobek kertas-kertas itu, tapi aku tau kau sangat menikmatinya.

Kau, seperti paragraf-paragraf yang tak ingin ada akhirnya. Aku menulis, dan kau dengan senang hati membacanya. Aku sengaja membuat cerita kita seperti kisah Cinderella atau Putri Salju, namun kau mengatakan, kebahagian kita tak boleh ada akhirnya. Dan kamu benar.

Kau, adalah senyum yang terangkai dalam hidupku. Kau meluruskan kepercayaan-kepercayaan serta harapan-harapanku yang bengkok. Kau senang berjalan disebelahku. tidak didepan, menuntunku, tidak juga dibelakang, menjagaku. karna menurutmu, tulang belakangku mengarah padamu saat kita bersebelahan, seperti bunga anggrek yang selalu condong kearah cahaya. Dan diam-diam, aku berjanji akan selalu disampingmu.

Tapi Kita, adalah bunga yang tumbuh liar ditaman, tak berpemilik namun saling memiliki. Tak punya harapan selain pada hujan yang begitu tulus membiarkan kita bermekaran .  Setiap rintik hujan yang turun, menjadi  kalimat demi kalimat cerita tentang kita, yang sempat kita biaskan pada genangan air hujan di sore itu.

Tapi Kita, adalah api yang membara di musim hujan. Kita menyala, lalu harus padam. Menyala lagi, lalu padam lagi. Begitu seterusnya sampai kita tak punya apa-apa lagi untuk kemudian menyala kembali. Hanya menyisakan asap-asap yang kemudian kita sebut kenangan.

Tapi Kita, adalah bintang di malam tanggal dua-puluh.  Berada dalam satu langit, namun terlalu banyak bintang yang akhirnya membuat kita tak saling memantulkan cahaya yang kita sebut cinta. Tidak sempat.

karena kita hanya sepasang sepatu usang yang terpisah karena dibuang dari pemiliknya, yang bernama Cinta.